KALITERAS= Kamis literasi dan budaya

**Kaliteras Kamis Literasi dan Budaya di SDN 22 Jatibaru Kota Bima**
Setiap hari Kamis, SDN 22 Jatibaru yang merupakan Sekolah Penggerak di Kota Bima menyelenggarakan kegiatan rutin yang dikenal dengan nama *Kaliteras Kamis Literasi dan Budaya*. Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan dan menumbuhkan kecintaan siswa terhadap literasi dan budaya daerah. Acara ini dipandu oleh Ibu Kalisom, S.Pd, yang dengan penuh semangat memandu kegiatan yang berlangsung di sekolah.
Pada kegiatan *Kaliteras Kamis* kali ini, siswa-siswi dari kelas 1 hingga kelas 3 turut berpartisipasi dalam menampilkan berbagai macam tarian tradisional. Tarian-tarian tersebut merupakan salah satu bentuk pengenalan budaya lokal yang diharapkan dapat meningkatkan rasa bangga dan cinta terhadap budaya bangsa. Selain itu, kegiatan ini juga menjadi sarana untuk melatih keberanian anak-anak dalam tampil di depan umum serta meningkatkan kemampuan motorik mereka.
Tari-tarian yang dipersembahkan oleh para siswa di antaranya adalah Tari Gendang Beleq, Tari Leko, dan beberapa tarian lainnya yang kental dengan nuansa kebudayaan daerah Bima. Setiap gerakan tari yang ditampilkan memperlihatkan kekompakan dan semangat yang luar biasa dari siswa-siswi SDN 22 Jatibaru. Tak hanya sebagai hiburan, pertunjukan ini juga menjadi ajang edukasi bagi para siswa dan masyarakat sekitar mengenai warisan budaya yang patut dilestarikan.
Ibu Kalisom, S.Pd sebagai pemandu kegiatan, sangat antusias menyampaikan pentingnya menjaga dan melestarikan budaya sejak usia dini. “Melalui kegiatan seperti ini, kami ingin menanamkan pada siswa-siswi kami betapa pentingnya untuk menjaga budaya dan tradisi yang sudah ada, sekaligus mengasah kemampuan mereka dalam berkreasi,” ujar Ibu Kalisom. Menurutnya, kegiatan ini sangat efektif dalam membangun rasa percaya diri siswa serta memberikan mereka pengetahuan baru tentang kebudayaan lokal.
Kegiatan *Kaliteras Kamis* ini mendapatkan apresiasi yang sangat positif dari orang tua siswa, masyarakat, serta pihak sekolah. Para orang tua merasa bangga melihat anak-anak mereka mampu menampilkan tari tradisional dengan percaya diri. Diharapkan, kegiatan ini dapat terus berlangsung dan menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lainnya dalam menciptakan kegiatan yang bermanfaat bagi perkembangan karakter siswa serta melestarikan budaya lokal.